Terimakasih Untuk Jeweran, Cubitan, dan Pukulanmu Bapak/Ibu Guru
Foto : Bapak/Ibu Guru SMA Muhammadiyah 1 Pringsewu
Tiada masa paling indah... Masa-masa disekolah. Sepenggal lirik lagu dari penyanyi (alm) Chrisye bikin saya rindu dengan suasana sekolah. Selain kangen bapak/ibu guru dan teman-teman yang gokil di sekolah. Jam kosong dan bel pulang sekolah juga moment yang turut saya rindukan. "Rindu sama bolos juga enggak?" Kalau ditanya soal bolos, semasa makan bangku sekolahan, saya pelajar yang paling tidak suka bolos. Sebab, menurut saya, bolos sekolah justru lebih melelahkan ketimbang belajar di sekolah. "Kok tau? Kan nggak pernah bolos?" Dasarnya dari curhatan kawan-kawan yang memang hobi bolos sekolah. Katanya, kalau bolos, sukanya keliling-keliling nggak jelas, cuma untuk cari tempat nongkrong yang aman sampai nanti jam pulang sekolah. Tapi beda cerita kalau yang ditanya pelajar yang suka bolos. Pasti jawabnya, "Lebih cape belajar di sekolah dari pada bolos sekolah".
Yasudahlah tinggalkan soal bolos. Sebab pada kesempatan ini, yang ingin saya bahas lebih spesifik mengenai Guru saja. Mengingat hari ini adalah peringatan Hari Guru Nasional yang memang selalu diperingati setiap tanggal 25 November.
Tak salah jika Guru dijuluki sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Sejatinya menjadi seorang Guru bukan perkara yang gampang. Selain tugas utama Guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Guru diharapkan juga mampu menanamkan nilai-nilai positif pada murid, karena guru adalah role model bagi para murid. Sehingga murid tidak hanya mendapatkan ilmu akadmis saja, tapi nilai-nilai moral pun turut dimiliki .
Tak jarang kita lihat, banyak murid pintar tapi lemah dimoral.
Menilik kondisi terkini terkait dunia pendidikan. Saya amati, kemampuan Guru untuk membentuk moral anak bangsa seperti dibatasi. Ya, seperti kita ketahui, tak sedikit Guru yang masuk bui lantaran berupaya membentuk moral anak didiknya.
Bahkan ada kasus yang hanya gara-gara menjewer muridnya, Guru dipenjarakan oleh orang tua salah satu peserta didiknya. Menurut saya itu berlebihan dan lebai. Geram rasanya melihat orang tua yang demikian. Kalau istilah anak zaman now, terlalu baperan dan mainnya kurang jauh.
Bagi generasi era 80-90 an. Guru mendidik dengan cara agak keras seperti mencubit, memukul, atau menjemur adalah sesuatu yang lumrah. Selama itu dalam batas wajar tentunya. Saya termasuk yang ikut marasakan, entah berapa puluh kali saya dikerasi oleh Guru. Mengadu ke orang tua bukan solusi yang tepat. Alih-alih mendapatkan pembelan, malahan mendapatkan hukuman tambahan di rumah. Ya, setiap kali dipukul Guru, amannya diam saja.
Kekerasan seperti itu, menurut saya adalah cara yang efektif untuk memberi efek jera kepada murid yang tidak disiplin. Sehingga kedepan membuat murid berfikir berkali-kali ketika akan melakukan perbuatan yang salah.
Daya nalar setiap murid itu berbeda-beda. Ada yang cukup dengan kata-kata bisa langsung patuh, tapi ada juga yang harus sedikit dikerasi baru patuh. Bahkan ada juga murid yang sudah dikerasi berkali-kali, namun masih tetap tidak patuh. Itulah manusia, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Mungkin karena hal itulah, kini Guru nampak kurang maksimal dalam mendidik para murid di sekolah. Cukup ilmu akademis saja, mendidik moral murid sealakadarnya, yang penting sudah diingatkan dengan lisan. Bisa jadi itu yang kini ada difikiran para Guru. Jika memang begitu adanya, imbas kembali lagi ke para peserta didik. Bukan tidak mungkin, sikap acuh Guru terhadap moral murid bakal mencipatkan generasi yang jauh dari sopan santun.
Belum lama ini, dunia pendidikan kembali dihebohkan dengan candaan siswa mengeroyok guru di dalam kelas yang menjurus pada unsur membully yang beredar luas di media sosial (medsos).
Meski niatnya hanya bercanda, tapi sungguh tak elok rasanya jika candaannya seolah-olah seperti ingin memukuli sang Guru. Bercanda antara Guru dan peserta didik boleh saja, namun harus tau batasannya.
"Wahai para orang tua. Mau atau tidak, anaknya jadi orang yang padai dan juga bermoral?" Saya yakin jika para orang tua ditanya demikian jawabnya pasti, MAU PAKE BANGET!!!.
Karena itu, sebagai orang tua baiknya bijak dalam mengambil keputusan. Tidak cepat baper dan sumbu pendek. Percayalah, apa yang Guru berikan semata-mata untuk kebaikan murid. Bukan cuma orang tua, Guru pun ikut bangga jika memiliki murid yang pintar dan bermoral baik. Kalau sudah begitu, maka Guru juga harus menjaga kepercayaan orang tua murid. Sehingga tujuan dari pada pendidikan di sekolah benar-benar bisa tercapai.
Tan Malaka : Tujuan Pendidikan Itu Untuk Mempertajam Kecerdasan, Memperkukuh Kemauan, Serta Memperhalus Perasaan...
Selamat Hari Guru Nasional.

Komentar
Posting Komentar